INILAHPOS.com - Sekretaris Daerah (Sekda) Sinjai, Andi Jefrianto Asapa, mengingatkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun masyarakat yang sehat.
Pesan itu ia sampaikan saat membuka rapat koordinasi untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan deteksi dini, pencegahan, dan respon penyakit Dinas Kesehatan Sinjai di Aula Hotel Rofina, Kamis (23/10/2025).
Andi Jefrianto menegaskan bahwa pembangunan kesehatan merupakan tanggung jawab lintas sektor untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat agar hidup sehat.
Ia menyebutkan, hal ini sejalan dengan visi Presiden RI 2025–2029, “Bersama Indonesia Maju, Menuju Indonesia Emas 2045.”
“Saat ini kita tengah menghadapi transisi epidemiologi, dari dominasi penyakit menular dengan harapan hidup rendah menuju penyakit tidak menular yang bersifat degeneratif,” ujarnya.
Andi Jefrianto mengutip data yang menunjukkan bahwa dalam tiga dekade terakhir, beban penyakit menular dan gizi buruk menurun dari 51,6 persen pada 1990 menjadi 20,8 persen di 2019.
Namun, pada saat yang sama, Penyakit Tidak Menular (PTM) naik dari 39,7% pada tahun 1990 menjadi 72,3% pada tahun 2019 Prevalensi overweight/obesitas pada populasi usia 18 tahun meningkat dari 26,3% pada tahun 2013 (Riskesdas, 2013) menjadi 35,4% pada tahun 2018 (Riskesdas, 2018)
“Indonesia kini menghadapi beban ganda. Di satu sisi, penyakit tidak menular meningkat signifikan, sementara di sisi lain penyakit menular masih belum sepenuhnya tertangani,” tambahnya.
Menurutnya, ada sembilan penyakit tidak menular yang menjadi prioritas pengendalian, di antaranya obesitas, hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, PPOK, kanker payudara, kanker serviks, serta gangguan fungsi indera mata dan telinga.
Andi Jefrianto juga menyoroti kualitas hidup penduduk Indonesia yang masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan data BPS, umur harapan hidup nasional pada 2020 mencapai 71,5 tahun, namun Healthy Life Expectancy (HALE) menurut WHO hanya 62,8 tahun.
“Artinya dari Umur Harapan Hidup 71,5 tahun, rerata terdapat 8,7 tahun yang hilang karena kualitas hidup yang buruk akibat menderita penyakit dan disabilitas,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya transformasi kesehatan yang berfokus pada pencegahan dan pengendalian penyakit, serta penerapan kebijakan Health in All Policies (HiAP) untuk memastikan setiap sektor pembangunan memperhatikan aspek kesehatan masyarakat.
“Perlu dipahami bahwa hanya sekitar 30 persen masalah kesehatan dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan. Selebihnya, 70 persen harus diselesaikan melalui kolaborasi lintas sektor,” tegasnya.
Rakor ini dihadiri Anggota DPRD Sinjai Andi Rusmiati Rustham, para kepala OPD, Tim Penggerak PKK, Kemenag Sinjai, camat, lurah dan kepala desa, pimpinan BPJS Kesehatan Sinjai, kepala puskesmas se-Kabupaten Sinjai, serta perwakilan perguruan tinggi dan organisasi profesi kesehatan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penguatan komitmen bersama dalam memperkuat sistem deteksi dini dan penanganan penyakit di Kabupaten Sinjai, sekaligus mendukung upaya nasional menuju masyarakat yang lebih sehat dan produktif.
