Di ujung tanah Bugis, Kabupaten Bone, suara perempuan muda mulai lantang menyuarakan kegelisahan zamannya. Bukan lagi soal kesempatan yang tertutup, melainkan cara pandang yang masih sempit-tentang pendidikan, tentang perempuan, dan tentang masa depan.
Semangat Raden Ajeng Kartini seharusnya tidak berhenti pada peringatan tahunan. Ia harus hidup dalam diri setiap perempuan, menjadi nyala yang mendorong keberanian berpikir, bersuara, dan menentukan arah hidup. Namun, di tengah realitas hari ini, masih banyak yang memandang pendidikan tinggi sebatas jalan menuju pekerjaan, bahkan lebih sempit lagi, sekadar menjadi aparatur negara.
Kuliah sering dianggap sekadar jalan untuk mendapatkan pekerjaan, dituntut harus daftar CPNS, lalu dianggap selesai. Padahal, kuliah bukan hanya tentang itu. Kuliah adalah ruang untuk menimba ilmu, melatih cara berpikir, belajar menganalisis, menyelesaikan konflik, dan memahami persoalan zaman.
Kuliah bukan pabrik tenaga kerja. Kuliah adalah tempat membentuk pola pikir. Kita harus berani memperbaiki mindset. Bahwa pendidikan tinggi bukan hanya soal “nanti kerja di mana”, tetapi “kita akan menjadi manusia seperti apa”.
Sebagai alumni SMK, saya punya mimpi besar untuk terus melanjutkan pendidikan. Saya percaya, generasi hari ini sedang menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Kita dituntut untuk adaptif, kritis, dan tidak salah arah dalam berpikir. Kuliah adalah tempat untuk, menganalisis, mengkritik dan memahami problem zaman.
Bukan untuk membatasi, apalagi melanggengkan stigma bahwa perempuan hanya pantas di dapur atau di ranjang.
Semangat Kartini ada dalam diri kita. “Habis gelap, terbitlah terang.” Kuliah adalah tentang ilmu. Tentang kesadaran. Tentang perubahan. Dan ya, kerja itu penting. Tapi cara berpikir jauh lebih penting. Karena dari cara berpikir yang benar, jalan hidup akan menemukan arahnya sendiri.
Bismillah
Salamaki to pada salama.
Kuru sumange.
Penulis: Zhera Syarnia (Siswa SMK 2 Bone)
