INILAHPOS.com - Tingginya angka pasar game online di Indonesia kini menjadi persoalan serius yang memerlukan perhatian khusus, terutama jika dibiarkan tanpa pengawasan memadai.
Fenomena ini turut ditemukan di Kelurahan Taletting, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, di mana anak-anak usia 10 hingga 15 tahun dilaporkan menghabiskan waktu bermain game online hingga 5 sampai 10 jam per hari.
Berdasarkan hasil observasi tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) 2026 Universitas Negeri Makassar (UNM) yang diketuai oleh Asmayani dari jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), kondisi tersebut kerap diikuti oleh munculnya perilaku siber berisiko. Beberapa di antaranya meliputi peretasan akun, praktik taruhan dalam permainan, hingga penggunaan uang secara berlebihan untuk top up.
Persoalan ini dinilai krusial mengingat anak-anak masih berada dalam tahap perkembangan kemampuan mengendalikan pikiran dan perilaku. Ketika bermain game mendominasi keseharian mereka, lingkungan pertemanan, kebiasaan sekitar, serta kurangnya pengawasan orang dewasa turut membentuk cara pandang anak dalam menilai suatu perilaku sebagai hal yang wajar atau menyimpang.
Faktor Pemicu dan Solusi Inovatif "Siri Mind Therapy"
Dari hasil penelitian terhadap 17 anak di lokasi tersebut, tim menemukan beberapa faktor utama yang memicu perilaku cybercrime berindikasi gaming disorder:
Anomie: Memperoleh persentase rata-rata tertinggi sebesar 73,43%. Social Control: Tercatat sebesar 71,25%. Differential Association: Mencapai 71,18%. Neutralization: Berada di angka 70,44%.
Temuan ini membuktikan bahwa perilaku siber menyimpang pada anak tidak hanya dipicu oleh durasi bermain game yang tinggi, melainkan juga erat kaitannya dengan faktor lingkungan sosial, lemahnya aturan dan pengawasan, serta rasionalisasi atau cara anak membenarkan tindakan mereka.
Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, tim PKM-RSH UNM memperkenalkan pendekatan Siri Mind Therapy. Metode ini menggabungkan pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dengan kearifan lokal budaya Bugis-Makassar, yakni Siri na Pacce. Melalui terapi ini, anak-anak diajak mengenali hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku, serta mengevaluasi kembali pola pikir yang memicu tindakan berisiko di ruang digital. Adapun nilai Siri na Pacce diintegrasikan untuk memperkuat kesadaran diri, rasa tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Pentingnya Sinergi Pengawasan Keluarga dan Sekolah
Temuan riset ini menegaskan bahwa adiksi game online pada anak tidak bisa sekadar dilihat dari lamanya waktu bermain. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara pengawasan keluarga, pendampingan intensif dari pihak sekolah, penciptaan lingkungan pertemanan yang positif, serta penguatan nilai-nilai budaya lokal.
Langkah-langkah komprehensif ini diharapkan mampu membimbing generasi muda agar dapat memanfaatkan teknologi digital secara lebih bijak, sehat, dan bertanggung jawab ke depannya. (PKM-RSH UNM)
