Temukan Ratusan Kasus, Dinkes Sinjai Perkuat Tracing TBC

Share:
Temukan Ratusan Kasus, Dinkes Sinjai  Perkuat Tracing Aktif TBC

INILAHPOS.com - Sebanyak 371 kasus Tuberkulosis (TBC) ditemukan di Kabupaten Sinjai sepanjang Januari-Agustus 2026. Temuan itu berasal dari 4.100 suspek TBC yang telah menjalani pemeriksaan.

Data tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sinjai untuk memperkuat penemuan kasus secara aktif di tengah masyarakat.

Upaya itu ditandai dengan Launching Penemuan Tuberkulosis Terintegrasi Cek Kesehatan Gratis Tingkat Kabupaten Sinjai yang digelar di Aula Pertemuan Kantor Kelurahan Bongki, Kecamatan Sinjai Utara, Senin (7/9/2026).

Launching gerakan serentak tracing TBC tersebut dilakukan langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Sinjai, Andi Jefrianto Asapa.

"Dari 4.100 suspek TBC yang telah diperiksa, telah ditemukan kasus TBC sebanyak 371 penderita. Artinya, dari 11 suspek yang diperiksa ditemukan satu penderita TBC," beber Kepala Dinas Kesehatan Sinjai, dr. Kahar Anies.

Ia menjelaskan, TBC masih menjadi persoalan kesehatan serius, tidak hanya di Indonesia tetapi juga secara global.

Mengacu pada Global TB Report
2025, Indonesia diperkirakan memiliki 1,08 juta kasus TBC. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan estimasi kasus TBC tertinggi kedua di dunia setelah India.

Sementara itu, kematian akibat TBC di Indonesia juga masih tinggi, dengan angka yang disebut mencapai sekitar 126.000 kasus per tahun.

Menurut dr. Kahar, kondisi tersebut menuntut penguatan strategi penemuan kasus. Skrining dan deteksi dini menjadi penting agar penderita dapat segera diketahui dan mendapatkan pengobatan.

"Penemuan kasus merupakan salah satu kegiatan penanggulangan untuk percepatan eliminasi Tuberkulosis," katanya.

Ia menambahkan, skrining dilakukan untuk mengetahui faktor risiko sekaligus mengidentifikasi terduga maupun kasus TBC di masyarakat.

Deteksi dini yang dilakukan secara cepat dan tepat dinilai dapat mencegah keterlambatan pengobatan sekaligus memutus mata rantai penularan, terutama di lingkungan keluarga dan komunitas.

Sementara itu, Sekda Sinjai Andi Jefrianto Asapa meminta penanggulangan TBC tidak dilakukan dengan pola menunggu. Menurutnya, pemerintah dan tenaga kesehatan harus aktif mendatangi masyarakat untuk menemukan penderita sedini mungkin.

"Keberhasilan penanggulangan TB tidak hanya cukup dengan menunggu masyarakat datang ke Puskesmas," tegas Andi Jefrianto.

Ia meminta jajaran Puskesmas, melalui koordinasi Dinas Kesehatan, mendatangi lokasi-lokasi yang telah ditentukan bersama pejabat wilayah setempat.

"Kita harus hadir lebih dekat kepada masyarakat. Kita harus menemukan kasus secara aktif," ujarnya.

Bagi Andi Jefrianto, menemukan penderita hanyalah tahap awal. Pemerintah juga harus memastikan pasien mendapatkan pengobatan dan menyelesaikan seluruh proses pengobatan hingga sembuh.

"Kita harus memastikan mereka mendapatkan pengobatan, dan kita harus memastikan mereka menyelesaikan pengobatan sampai sembuh," tambahnya.

Ia menegaskan, TBC tidak hanya berdampak pada kesehatan individu. Penyakit tersebut juga berkaitan dengan kondisi keluarga, kehidupan sosial, produktivitas, hingga pembangunan manusia.

"TB adalah persoalan keluarga, sosial, produktivitas, dan pembangunan manusia. Seseorang yang menderita TB dan belum ditemukan serta belum mendapatkan pengobatan, bukan hanya berisiko terhadap dirinya sendiri, tetapi juga orang lain," jelasnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah perangkat daerah, Camat Sinjai Utara, para lurah, Tim Penggerak PKK, dan Kepala Puskesmas Balangnipa.

Share:
Komentar

Berita Terkini