INILAHPOS.com - Sinergi antara teknologi inseminasi buatan (IB) dan ketelatenan peternak kembali membuahkan hasil membanggakan di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Seekor sapi jenis Brahman Cross milik peternak lokal bernama Amirullah kini resmi diusulkan sebagai calon sapi bantuan kemasyarakatan Presiden Republik Indonesia untuk Iduladha 2026.
Sapi yang diberi nama “Mahmuddin” itu menjadi perhatian karena memiliki kualitas fisik dan bobot yang dinilai memenuhi standar hewan kurban kepresidenan.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Sidrap, Ahmad Dollah, mengatakan sapi tersebut merupakan hasil persilangan antara ras Brahman dan Limousin melalui teknologi inseminasi buatan yang dikembangkan di daerah.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi peternak, tetapi juga bukti nyata keberhasilan penerapan teknologi peternakan modern di tingkat masyarakat.
“Sapi ini telah melalui proses penggemukan intensif yang meningkatkan nilai ekonominya secara drastis,” ujarnya saat memberikan keterangan bersama Kepala Bidang Pembibitan dan Kesehatan Hewan, Andi Bustami, Kamis (14/5/2026).
Ahmad menjelaskan, keberhasilan Mahmuddin menjadi kandidat sapi bantuan Presiden tidak lepas dari peran petugas inseminator dan ketelatenan peternak dalam melakukan perawatan secara konsisten.
“Keberhasilan ini merupakan hasil sinergi antara ketelitian petugas inseminator di lapangan dengan ketelatenan peternak dalam pemeliharaan,” jelasnya.
Saat ini, kondisi kesehatan sapi tersebut terus dipantau guna memastikan seluruh persyaratan sebagai hewan kurban bantuan Presiden terpenuhi dengan baik.
“Kualitas fisik dan bobotnya yang luar biasa menjadikan sapi ini kandidat kuat untuk memenuhi standar bantuan hewan kurban kepresidenan,” tambah Ahmad.
Ia menilai, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa teknologi inseminasi buatan mampu memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat peternak.
“Ini membuktikan bahwa teknologi inseminasi buatan mampu mendongkrak ekonomi keluarga peternak secara signifikan,” tandasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, sapi Mahmuddin awalnya dibeli dari pemilik pertama saat masih berusia 10 bulan dengan harga Rp16 juta.
Setelah dipelihara dan menjalani proses penggemukan selama kurang lebih dua tahun hingga mencapai usia 3 tahun 11 bulan, nilai jual sapi tersebut kini melonjak drastis hingga mencapai Rp95 juta.
Lonjakan harga yang mencapai ratusan persen itu menjadi gambaran besarnya potensi usaha penggemukan sapi hasil inseminasi buatan yang kini mulai diminati masyarakat.
