Menanti dengan Ikhlas: Perjalanan Panjang Asrullah Ahmad Menuju PPPK

Share:
Menanti dengan Ikhlas: Perjalanan Panjang Asrullah Ahmad Menuju PPPK
Asrullah Ahmad

INILAHPOS.com - Asrullah Ahmad lahir di Sinjai pada 25 Juli 1987. Di usianya yang kini menginjak 39 tahun, ia telah melewati perjalanan panjang penuh liku sebagai seorang tenaga honorer. Kisah hidupnya adalah gambaran nyata tentang kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan bahwa kerja keras yang dijalani dengan niat baik pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.

Perjalanan pengabdiannya dimulai pada tahun 2006, ketika Asrullah mulai bekerja sebagai tenaga honorer di Kantor Jamkesda Sinjai. Saat itu, ia masih muda dan penuh semangat. Pekerjaan tersebut ia jalani dengan sungguh-sungguh meskipun status honorer membuatnya harus menerima banyak keterbatasan. 

Ia tidak memiliki kepastian masa depan, gaji yang layak, maupun jaminan kesejahteraan. Namun bagi Asrullah, bekerja adalah bentuk tanggung jawab dan pengabdian, bukan sekadar mencari penghasilan.

Pada tahun 2013, Kantor Jamkesda Sinjai resmi selesai atau tidak lagi beroperasi. Asrullah kemudian dipindahkan ke Kantor Dinas Kesehatan Sinjai. Harapan baru sempat tumbuh, namun kenyataan tidak selalu sejalan dengan rencana. 

Pada tahun 2014, terjadi permasalahan internal yang membuat Asrullah akhirnya harus meninggalkan kantor tersebut. Keputusan itu bukan hal yang mudah. Ia sempat berada pada titik kebingungan, memikirkan masa depan dan kelanjutan hidupnya.

Setelah melewati masa sulit tersebut, Asrullah tidak memilih untuk menyerah. Pada tahun 2015, ia melanjutkan pengabdiannya sebagai tenaga honorer di Dinas Perhubungan (Dishub) Makassar

Di sinilah ia menghadapi tantangan yang jauh lebih berat, karena harus bekerja langsung sebagai petugas lapangan. Tugas ini menuntut fisik yang kuat, mental yang tangguh, dan kesabaran yang besar.

Sebagai petugas lapangan, jam kerja Asrullah tidak pernah menentu. Kadang ia mulai bekerja sejak pagi hingga tengah malam, bahkan tidak jarang keluar rumah sejak subuh dan baru kembali sore hari. Hujan dan panas tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti. Jalanan, debu, terik matahari, dan padatnya lalu lintas sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

Di balik kerja keras tersebut, gaji yang diterima pun jauh dari kata cukup. Penghasilannya berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR) dan sering kali terlambat dibayarkan. Meski demikian, Asrullah tetap bertahan. Ia menyadari bahwa tanggung jawab sebagai kepala keluarga menuntutnya untuk terus bekerja dan berjuang, apa pun keadaannya.

Risiko pekerjaannya pun tidak kecil. Bersentuhan langsung dengan masyarakat luas membuatnya sering menghadapi situasi sulit. Ketegangan dengan pengendara, adu argumen dengan “pak ogah”, hingga konflik di lapangan menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Namun Asrullah selalu berusaha mengedepankan sikap tenang dan profesional. Ia percaya bahwa tugasnya adalah melayani dan menjaga ketertiban, bukan mencari masalah.

Tahun demi tahun berlalu, dan status honorer masih setia menemaninya. Ada kalanya rasa lelah dan jenuh datang, terutama ketika melihat usia yang semakin bertambah sementara kepastian belum juga terlihat. Namun di tengah semua itu, Asrullah tetap memegang satu prinsip hidup yang selalu ia yakini. 

Ia pernah berkata, “Dengan segala kendala menjadi honorer di lapangan, apa pun itu kalau dikerjakan dengan ikhlas dan niat baik, pasti ada jalannya. Intinya, hal baik yang dikerjakan, baik juga hasilnya.”

Prinsip itulah yang membuatnya tetap bertahan dan tidak berhenti berharap. Ketika kesempatan seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) terbuka, Asrullah kembali menaruh harapan. Ia mempersiapkan diri sebaik mungkin, di sela-sela kesibukan kerja lapangan yang melelahkan. Doa, usaha, dan keyakinan ia satukan dalam satu tujuan.

Akhirnya, penantian panjang itu berbuah manis. Pada tanggal 1 Juli 2025, Asrullah Ahmad resmi dilantik sebagai PPPK di Dinas Perhubungan. Hari itu menjadi tonggak penting dalam hidupnya. Perjuangan sejak tahun 2006, berpindah dari satu instansi ke instansi lain, melewati berbagai rintangan dan ketidakpastian, akhirnya terbayar dengan kepastian dan pengakuan atas pengabdiannya.

Kini, meskipun telah menyandang status PPPK, Asrullah tetap menjadi pribadi yang sederhana. Ia tidak melupakan masa-masa sulitnya sebagai honorer. Pengalaman panjang itu justru menjadi pengingat baginya untuk tetap rendah hati dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.

Penulis: Nur Azizah Arif


Share:
Komentar

Berita Terkini