![]() |
| Haidir Fitra Siagian, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar |
Haidir Fitra Siagian adalah dosen pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, yang menapaki perjalanan hidup dan akademik dari kesederhanaan hingga ruang-ruang pendidikan internasional.
Keinginan itu pernah tumbuh begitu kuat di hati seorang anak desa di Sipirok, masuk pesantren setelah tamat Sekolah Dasar. Namun, keterbatasan ekonomi orang tua memaksanya belajar menerima kenyataan.
Impian itu tak terwujud, tetapi tak pernah benar-benar padam. Barangkali, sejak saat itulah ia mulai belajar satu hal penting bahwa hidup bukan tentang apa yang kita rencanakan, melainkan bagaimana kita menyikapi apa yang dianugerahkan Tuhan.
Masa kecilnya berjalan sederhana. Ia menjalani hari-hari sebagaimana anak-anak lain di kampung halaman bermain bersama teman sebaya, ikut orang tua ke sawah dan kebun, serta mendampingi ibunya berjualan di pasar. Hidup terasa baik-baik saja. Tak ada luka besar, tak ada kecewa mendalam. Jika pun ada masalah kecil, itu hanya bumbu kehidupan yang lumrah.
Di tengah kesederhanaan itu, keyakinan kepada Allah Swt tumbuh kuat. Ia percaya bahwa dirinya senantiasa berada dalam bimbingan-Nya. Ibadah menjadi sandaran, dan keyakinan menjadi penopang. Ia yakin sepenuh hati bahwa selama berjalan di jalan yang lurus, Allah Swt tidak akan meninggalkannya.
Tahun 1990 menjadi titik balik hidupnya. Setelah menamatkan SMP, kesempatan merantau ke Makassar terbuka. Dengan usia 15 tahun yang masih sangat belia, ia harus berpisah dari orang tua. Perpisahan itu bukan hal yang mudah.
Kesedihan menyelimuti, tetapi keberanian untuk mencoba tantangan baru akhirnya datang. Tanpa disadari, ia sedang melangkah keluar dari zona nyaman, jauh sebelum istilah itu populer.
Makassar menjadi sekolah kehidupan yang sesungguhnya. Di kota inilah cara berpikirnya mulai terbentuk. Ia belajar mandiri, mengurus segala sesuatu sendiri, dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya.
Kematangan itu semakin terasah ketika ia bersekolah di SMA Negeri 3 Makassar pada tahun 1991–1994. Kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Sekretaris Umum OSIS membuka ruang belajar yang luas tentang kepemimpinan, kerja sama, dan pengabdian.
Perjalanan intelektual dan spiritualnya berlanjut saat ia menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin (1994–1999). Aktivitas organisasinya semakin padat. Ia aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Mahasiswa Pencinta Mushalla (MPM), serta menjadi bagian dari Mushalla Ibnu Khaldun FISIP Unhas.
Organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang pembentukan karakter dan nilai-nilai perjuangan.
Pengabdiannya kepada Muhammadiyah juga berlangsung panjang. Selama dua puluh tahun, dari 1990 hingga 2010, ia mengabdi sebagai staf kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.
Di sana, ia menempa diri dalam kerja-kerja keagamaan, keorganisasian, sosial, dan kemasyarakatan. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika ia dipercaya memimpin misi kemanusiaan ke Ternate, Maluku Utara, untuk menyalurkan bantuan bagi korban konflik. Pengalaman itu mengajarkannya arti empati, keberanian, dan tanggung jawab kemanusiaan.
Ia juga aktif membina remaja dan pelajar melalui Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM). Baginya, mendampingi generasi muda adalah investasi jangka panjang bagi umat dan bangsa. Menariknya, ia tak menganggap hidupnya penuh tantangan besar.
Baginya, persoalan yang datang hanyalah bumbu-bumbu kehidupan. Semua masalah, sekecil atau sebesar apa pun, selalu menemukan jalan keluar. Ia percaya, selama ada ikhtiar dan doa, selalu ada pertolongan Allah SWT.
Salah satu momen yang paling ia syukuri adalah saat hendak menikah. Ketika biaya tak mencukupi, jalan keluar datang dari arah yang tak terduga. Calon bapak mertuanya dengan lapang dada mengurangi jumlah uang panaik. Sebuah keputusan yang langka, dan baginya, itulah bukti nyata campur tangan Tuhan dalam urusan manusia.
Dalam setiap kesulitan, ia tak pernah berjalan sendiri. Ia selalu berkonsultasi dengan ibu dan bapaknya. Setelah menikah, sang istri menjadi tempat berbagi dan bertukar pikiran. Mereka adalah konsultan terbaik dalam hidupnya memberi nasihat dengan ketulusan dan kebijaksanaan.
Puncak perjalanan akademiknya terjadi pada tahun 2015, ketika ia berhasil menyelesaikan studi doktoral (S3) di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Sebuah pencapaian yang tak pernah terlintas dalam benaknya saat kecil. Kebahagiaan itu berlipat ketika istrinya menyelesaikan studi S3 di Australia pada tahun 2024. Lebih dari itu, ketiga anak mereka menempuh pendidikan dasar dan menengah di negeri yang sama.
Semua itu mengingatkannya pada pesan bapak mertuanya sekitar tahun 2004 agar ia melanjutkan studi ke luar negeri dan menyekolahkan keluarga di sana. Pesan yang dahulu terasa jauh, kini menjadi kenyataan. Kini, ketika menoleh ke belakang, ia semakin yakin bahwa semua yang diraihnya bukan semata hasil kecerdasan atau kerja keras pribadi.
Semuanya adalah karunia Allah Swt. Ia hanya berusaha dan berikhtiar, sementara keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Sang Pencipta. Ia bahagia, bukan hanya karena pencapaiannya, tetapi karena mampu membahagiakan orang tua dan mertua. Meski ayah dan bapak mertuanya telah berpulang, ia percaya bahwa doa dan kebahagiaan mereka tetap menyertainya.
Pada akhirnya, perjalanan hidup ini mengajarkan satu kebijaksanaan yang tumbuh pelan-pelan. Tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia jika dijalani dengan keyakinan. Banyak hal dalam hidup yang mula-mula tampak terlalu jauh untuk diraih, bahkan nyaris mustahil. Namun waktu sering kali membuktikan bahwa apa yang terasa mustahil hari ini, bisa menjadi kenyataan esok hari dengan cara yang tak pernah kita duga.
Ia memahami bahwa merantau bukan hanya tentang berpindah tempat, melainkan tentang keberanian meninggalkan kenyamanan demi pertumbuhan diri. Setiap jarak yang ia tempuh dari kampung halaman, setiap fase hidup yang ia jalani, selalu disertai pembelajaran batin yang mendalam. Dari sanalah tumbuh kesadaran bahwa manusia sejatinya hanya perencana, sementara Tuhan adalah penentu akhir dari setiap langkah.
Penulis: Nurul Muhlisa
